Pages

Sabtu, 03 November 2012

Narrative Therapy



A.      NAMA PENDEKATAN
Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan Narrative Therapy.

B.       SEJARAH PERKEMBANGAN
Terapi Naratif mengadopsi pendekatan yang melibatkan perubahan fokus dari teori paling tradisional. Terapis dianjurkan untuk membangun pendekatan kolaboratif dengan minat khusus pada klien dengan mendengarkan cerita-cerita; untuk mencari tahu kehidupan klien. Menggunakan pertanyaan sebagai cara untuk melibatkan klien dan memfasilitasi mereka bereksplorasi, untuk menghindari diagnosis dan pelabelan klien atau menerima sepenuhnya berdasarkan deskripsi masalah; untuk membantu klien dalam pemetaan  pengaruh masalah yang dimiliki dalam kehidupan mareka; dan untuk membantu klien memisahkan diri dari cerita-cerita yang dominan yang telah diinternalisasi sehingga hati atau pikiran yang sering kali disebut sebagai ruang dapat dibuka untuk menciptakan kisah kehidupan alternatif (Freddman&Combs, 1996).
·      Peran Stories
Kita hidup dengan cerita yang kita ceritakan tentang diri kita dan orang lain katakan tentang kita. Cerita ini sebenarnya membentuk realitas yang dalam, bahwa mereka membangun dan membentuk apa yang kita lihat, rasakan dan lakukan. Cerita kita hidup dan tumbuh dari percakapan dalam konteks sosial dan budaya. Tetapi klien tidak mempunyai  peran patologis, korban yang hidup tanpa harapan dan meyedihkan, melainkan mereka muncul sebagai pemenang yang berani menceritakan kisah-kisah nyata. Cerita tidak mengubah orang yang mengatakan cerita, tetapi juga mengubah terapis yang beruntung menjadi bagian dari proses ini (Monk, 1997).
·      Mendengarkan dengan  pikiran terbuka
Semua teori kontruksionis sosial menekankan pada klien untuk mendengarkan tanpa menghakimi atau menyalahkan , menegaskan dan menghargai mereka. Lindsley (1994) menekankan bahwa terapis dapat mendorong klien untuk mempertimbangkan kembali peniaian absolut yang bergerak ke arah melihat keduanya “baik” dan “buruk” unsur-unsur dalam situasi. Terapis Naratif melakukan upaya tanpa memaksakan sistem nilai mereka dan interpretasi. Mereka ingin menciptakan makna dan kemungkinan-kemungkinan baru klien yang berbagi cerita bukan dari prasangka dan pada akhirnya sebuah teori dan nilai penting dipaksakan.Walaupun terapis Naratif membawa kepada usaha terapis tentang  sikap tertentu seperti: optimisme, hormat, keingintahuan, ketekunan, dan menghargai klien untuk mengetahui, mereka dapat mendengarkan masalah-kisah kejenuhan klien tanpa terjebak. Sebagai terapis Naratif, dalam mendengarkan cerita klien, mereka tetap waspada untuk rincian yang memberikan bukti  dari kompetensi klien dalam melawan masalah yang menindas.

C.      HAKIKAT MANUSIA
Berdasarkan konsep perilaku manusia, prinsip kerja konseling berdasarkan konseling naratif ini didasarkan atas asumsi sebagai barikut:
1.    Perspektif Naratif berfokus pada kemampuan manusia untuk berpikir kreatif dan imajinatif. Praktisi Naratif tidak pernah menganggap bahwa ia tahu lebih banyak tentang kehidupan klien daripada yang mereka lakukan.
2.    Klien adalah penafsir utama pengalaman mereka sendiri.
3.    Praktisi Naratif melihat orang  sebagai agen aktif yang mampu memperoleh makna keluar dari dunia pengalaman mereka. Dengan demikian, proses perubahan dapat difasilitasi, tetapi tidak diarahkan oleh terapis.

D.      PERKEMBANGAN PERILAKU
1.    Struktur Kepribadian
Terapi Narasi didasarkan pada empat keyakinan dasar yaitu antara lain sebagai berikut:
a.    Klien tidak ditentukan oleh masalah mereka yang hadir. Klien sering mengidentifikasi diri dengan masalah mereka. Sebaliknya, dengan memiliki label disfungsi, klien mulai menerima masalah mereka sebagai bagian yang terintegrasi dari siapa mereka, bukan karakteristik yang melekat. Sebagai contoh, klien yang menderita depresi mengalami keadaan temporal bukanlah karakteristik kepribadian mereka. Membuat perbedaan antara diri dan masalahnya adalah penting jika klien harus diberdayakan untuk reauthor narasi kehidupan mereka.
b.    Klien adalah pakar pada kehidupan mereka, sehingga konselor atau terapis harus bijaksana mencari keahlian mereka. Aspek humanistik konseling dan psikoterapi adalah keyakinan bahwa klien memiliki jawaban mereka. Klien telah menghabiskan waktu yang paling dengan diri mereka sendiri, telah mengalami totalitas kehidupan mereka, dan merupakan sumber terbaik tentang bagaimana mereka harus datang ke tempat ini mereka dalam kehidupan. Setiap intervensi yang efektif dengan klien harus memperhitungkan keakraban besar yang mereka miliki dengan diri dan dilema mereka.
c.    Klien memiliki banyak keterampilan, kompetensi, dan sumber daya internal yang menarik. Semua klien, bahkan anak muda, memiliki keterampilan hidup tertentu yang mereka menarik dari dalam kehidupan sehari-hari mereka. Kompetensi-kompetensi yang klien telah digunakan untuk tiba pada titik ini dalam perjalanan hidup mereka harus digunakan sebagai sumber bagi mereka dalam pekerjaan terapi mereka dan seterusnya. Praktisi harus memperhatikan dan mengeksplorasi kekuatan yang jelas dalam narasi kehidupan klien.
d.   Terapi perubahan terjadi ketika klien menerima peran mereka sebagai penulis hidup mereka dan mulai untuk menciptakan sebuah narasi kehidupan yang kongruen dengan harapan mereka, impian, dan aspirasi. Klien memiliki banyak pilihan dalam cara mereka pengalaman dan melihat perjalanan hidup mereka. Memberdayakan klien untuk menerima tanggung jawab atas penulisan hidup mereka adalah peran konselor atau terapis. Setelah klien melihat pola tematik dan karakter dalam cerita kehidupan mereka, mereka bisa membuat struktur cerita mereka terhadap tujuan yang lebih positif dan sehat.
2.         Pribadi Sehat dan Bermasalah
a.    Pribadi sehat
1)   Individu yang memahami kehidupan mereka yang tampaknya teratur didalam dan luar.
2)   Individu yang mampu mempromosikan interaksi keluarga yang sehat dan memberikan pemahaman untuk pembangunan sosial makna dalam kehidupan pribadi.
3)   Individu yang mampu memahami pikiran dan sistem kepercayaan yang berasal dari kenangan awal dan interaksi dalam kehidupan.
b.    Pribadi bermasalah
1)   Individu yang merasa sebagai akibat tinggal sebuah narasi pribadi penderitaan, ketakutan, atau tidak berharga.
2)   Individu yang tidak dapat mengeksplorasi ke dalam diri mereka sendiri,
3)   Individu yang selalu dibayang-bayangi oleh keinginan/harapan, aspirasi ketakutan penyesalan dan luka emosional.

E.       HAKIKAT KONSELING
Perspektif narratif berfokus pada kapasitas manusia untuk mengkreasikan dan imajinasi pikiran. Praktisi narrative tidak menganggap bahwa mereka mengetahui  hal yang lebih mengenai kehidupan konseli dari yang mereka lakukan (Konseli adalah penafsir utama dari pengalaman mereka sendiri. Orang-orang dipandang sebagai agen aktif yang mampu berarti berasal dari dunia pengalaman mereka. Dengan demikian proses perubahan dapat difasilitasi, tapi tidak diarahkan oleh terapis (Corey, 200:389).

F.       KONDISI PENGUBAHAN
1.         Tujuan
Tujuan umum konseling narasi adalah membawa konseli agar dapat
menggambarkan pengalaman mereka dalam bahasa baru dan segar.
Dalam hal ini dilakukan sampai konseli menemukan pandangan baru. Bahasa baru ini memungkinkan klien untuk mengembangkan makna baru bagi pikiran yang bermasalah, perasaan, dan perilaku (Freedman & Combs, 1996). Terapi narasi hampir selalu mencakup kesadaran akan dampak dari berbagai aspek budaya dominan pada kehidupan manusia. Praktisi berusaha untuk memperbesar sudut pandang dan fokus serta memfasilitasi penemuan atau penciptaan pilihan baru yang unik untuk orang-orang yang mereka lihat.
2.         Konselor
Peran terapis Narasi adalah fasilitator aktif. Konsep kepedulian, minat, respek dengan menghormati, keterbukaan, empati, kontak, dan bahkan daya tarik dipandang sebagai kebutuhan relasional. Ketidaktahuan posisi, yang memungkinkan terapis untuk mengikuti, menegaskan dan dipandu oleh cerita-cerita dari klien mereka, menciptakan pengamatan terhadap konseli dan dan berperan sebagai fasilitator dan mengintegrasikan terapi dengan pandangan postmodern manusia.
Tugas utama terapis adalah membantu klien membangun cerita yang lebih disukai klien. Terapis narasi mengadopsi sikap yang ditandai oleh respek dengan hormat dan bekerja dengan klien untuk mengeksplorasi dampak masalah pada
mereka dan apa yang mereka lakukan untuk mengurangi efek dari masalah (Winslade
 & Monk, 2007). Salah satu fungsi utama terapis adalah dengan mengajukan pertanyaan pada klien dan, berdasarkan jawaban, untuk menghasilkan pertanyaan lebih lanjut. Putih dan Epston (1990) mulai dengan eksplorasi klien sehubungan untuk masalah yang diajukan. Hal ini tidak biasa bagi klien untuk menyajikan cerita awal di mana mereka dan masalah menyatu, seolah-olah sama. Terapis Narasi cenderung menghindari penggunaan bahasa yang mencakup diagnosis, penilaian, pengobatan, dan intervensi. Fungsi seperti diagnosis dan penilaian sering memberikan prioritas kepada "kebenaran" praktisi atas pengetahuan klien tentang hidup mereka sendiri. Pendekatan naratif memberikan penekanan kepada klien pemahaman pada pengalaman hidup dan menekankan upaya untuk memprediksi, menafsirkan, dan pathologize. Praktisi Narasi berhati-hati untuk tidak menganggap peran utama mengambil inisiatif dalam kehidupan orang lain atau merebut kekuatan dari klien dalam membawa perubahan (Winslade et al., 1997). Dalam konseling narasi, tidak ada penetapan formula atau resep untuk mengikuti (Freedman & Combs, 1996; Monk, Winslade, Crocket, & Epston, 1997; Winslade & Monk, 2007). Monk (1997) menekankan bahwa terapi narasi akan bervariasi dengan setiap klien karena setiap orang adalah unik. Untuk Monk, percakapan narasi didasarkan pada cara hidup, dan jika konseling narasi "Dipandang sebagai rumus atau digunakan sebagai resep, klien akan memiliki pengalaman setelah sesuatu dilakukan kepada mereka dan merasa ditinggalkan dari percakapan "(hal. 24).
3.         Konseli
Terapis narasi mengasumsikan klien adalah ahli ketika datang ke apa yang dia inginkan dalam hidup. Dalam hal ini berarti konseli berperan aktif dalam konseling karena konseli yang mengetahui dirinya dan kehidupannya.
4.         Situasi Hubungan
Konseling Narasi sangat mementingkan kualitas terapis yang membawa kepada usaha terapi. Beberapa dari termasuk sikap optimisme dan rasa hormat, rasa ingin tahu dan ketekunan, menghargai pengetahuan klien, dan menciptakan jenis khusus dari hubungan ditandai dengan dialog pembagian kekuasaan nyata (Winslade & Monk, 2007). Kolaborasi, kasih sayang, refleksi, dan penemuan mencirikan hubungan terapeutik. Jika hubungan ini adalah untuk benar-benar kolaboratif, terapis perlu menyadari bagaimana kekuasaan memanifestasikan dirinya dalam praktek profesionalnya. Ini tidak berarti bahwa terapis tidak memiliki otoritas sebagai seorang profesional. Dia menggunakan otoritas ini, dengan memperlakukan klien sebagai pakar dalam kehidupan mereka sendiri. Winslade, Crocket, dan Monk (1997) menggambarkan kolaborasi ini sebagai coauthoring atau berbagi kekuasaan. Klien berfungsi sebagai penulis ketika mereka memiliki kewenangan untuk berbicara atas nama mereka sendiri. Dalam pendekatan naratif, terapis-sebagai-ahli digantikan oleh klien-sebagai ahli -. Gagasan ini menantang sikap terapis sebagai seorang ahli semua-bijaksana dan maha tahu. Winslade dan Monk (2007) menyatakan: "Integritas dari hubungan konseling demikian dipertahankan sementara klien dihormati sebagai penulis senior dalam pembangunan dari sebuah narasi alternatif "(hal. 57-58).
Klien sering terjebak dalam 
cerita masalah pola hidup-kejenuhan  tidak bekerja. Terapis memasuki dialog ini dan mengajukan pertanyaan-pertanyaan dalam
upaya untuk memperoleh perspektif, sumber daya, dan pengalaman unik dari klien.
G.    MEKANISME PENGUBAHAN
1)        Tahap-tahap Konseling
Ini gambaran singkat mengenai langkah-langkah dalam proses terapi narasi menggambarkan struktur pendekatan narasi (O'Hanlon, 1994, hlm 25-26):
a)    Berkolaborasi dengan klien untuk datang dengan nama yang dapat diterima bersama untuk masalah tersebut.
b)   Melambangkan masalah dan menghubungkan pada keinginan yang menekan dan strategi untuk masalah tersebut.
c)    Menyelidiki bagaimana masalah telah mengganggu, mendominasi, atau mengecilkan hati/mengecewakan klien.
d)   Mintalah klien untuk melihat ceritanya dari perspektif yang berbeda dengan menawarkan makna alternatif dari peristiwa yang dialaminya .
e)    Temukan saat-saat ketika klien tidak didominasi atau berkecil hati oleh
masalah dengan mencari pengecualian untuk masalah ini.
f)    Menemukan bukti historis untuk mendukung pandangan baru dari klien sebagai orang yang cukup kompeten untuk menantang, mengalahkan, atau keluar dari dominasi atau tekanan masalah. (Pada tahap ini identitas orang tersebut dan kehidupan cerita mulai mendapatkan ditulis ulang.)
g)   Meminta klien untuk berspekulasi mengenai masa depan bagaimana yang bisa diharapkan dari kekuatan dan kompetensi seseorang. Sehingga klien menjadi terbebas dari cerita-cerita masalah yang menjenuhkan dari masa lalu, dan ia dapat membayangkan dan merencanakan untuk masa depan yang kurang bermasalah.
h)   Menemukan atau menciptakan audiens untuk memahami dan mendukung cerita baru. Tidaklah cukup untuk membaca cerita baru. Klien perlu untuk hidup baru cerita luar terapi. Karena orang itu masalah awalnya dikembangkan
dalam konteks sosial, adalah penting untuk melibatkan lingkungan sosial
dalam mendukung kisah hidup baru yang telah muncul dalam percakapan
dengan terapis.
Winslade dan Monk (2007) menekankan bahwa percakapan narasi tidak mengikuti perkembangan linier dijelaskan di sini, karena lebih baik memikirkan langkah-langkah dalam hal perkembangan siklus yang mengandung unsur-unsur berikut:
¨    Pindah cerita masalah ke arah deskripsi externalized masalah
¨    Peta efek dari masalah pada individu
¨    Dengarkan tanda-tanda kekuatan dan kompetensi di problemsaturated individu
cerita
¨    Membangun cerita baru kompetensi dan mendokumentasikan prestasi ini
2)      Teknik-teknik Konseling  
1)   Pertanyaan dan pertanyaan lainnya. Pertanyaan yang ditanyakan oleh terapis naratif mungkin nampaknya melekat dalam sebuah percakapan yang unik, bagian dari dialog tentang dialog sebelumnya, penemuan kejadian-kejadian unik atau eksplorasi proses kultur yang dominan dan memberikan perintah. Apapun tujuannya, pertanyaan seringkali sirkuler atau berhubungan,  dan ditujukan untuk memberikan dorongan kepada klien dalam cara yang baru. Seperti prase terkenal yang digunakan oleh Gregory Bateson (1972), pertanyaan-pertanyaan itu adalah pertanyaan untuk mencari perbedaan yang akan membuat perbedaan.
Terapis naratif menggunakan pertanyaan sebagai upaya untuk menhasilkan pengalaman daripada mengumpulkan informasi. Tujuan bertanya di sini adalah untuk terus menemukan atau membentuk pengalaman klien sehingga terapis memahami arah mana yang harus di tempuh. Pertanyaan selalu dimulai dengan merespek secara positif, keingintahuan dan keterbukaan. Terapis bertanya dari posisi yang tidak tahu dimana berarti bahwa mereka tidak memberikan pertanyaan yang kiranya mereka sudah mengetahui jawabannya. Monk (1997) menjelaskan posisi ini sebagai berikut:
Berkebalikan dengan normative yang ada, cara naratif mengharuskan konselor untuk mengambil posisi mencari tahu, memeriksa dan menggali informasi. Dia menunjukkan kepada klien bahwa konselor tidak memiliki akses khusus kedalam kebenaran. Konselor hanya memiliki peran untuk memahami pengalaman klien.

Terapis yang menggunakan pendekatan naratif berusaha memilah-milah atau membentuk kembali  wacana yang melatarbelakangi masalah klien. Melalui proses bertanya, terapis memberikan kesempatan kepada klien untuk mencari tahu berbagai macam dimensi dalam kehidupan mereka. Dengan cara ini mereka membantu membawa ke permukaan asumsi kultur yang tidak terucapkan yang berhubungan dengan pembentukan masalah pada awalnya. Terapis berperan dalam menemukan bagaimana masalah ini pertama kali menjadi jelas dan bagaimana masalah ini mempengaruhi pandangan klien terhadap diri mereka (Monk, 1997). Terapis naratif berusaha melibatkan orang dalam pembentukan kembali kisah-kisah tentang masalah mereka, mengidentifikasi arah yang diinginkan dan menciptakan kisah-kisah lainnya yang mencukung arah yang dipilih tersebut (Freedman dan Combs, 1996).
2)   Eksternalisasi dan dekonstruksi. Terapis naratif berbeda dari terapis tradisional lainnya dimana terapis naratif percaya bahwa bukan orangnya yang menjadi masalah tetapi masalahnya memang sebuah masalah. Menjalani hidup berarti memang menghadapi masalah, tidak menjadi satu dengan masalah. Masalah dan kisah-kisah tentang masalah memiliki pengaruh pada orang dan dapat merubah hidup dalam cara-cara yang negatif. Asumsi tentang sebuah masalah yang tidak dipahami dengan benar akan membatasi kesempatan baik untuk klien dan terapis untuk menggali perubahan (McKenzie & Monk, 1997). Terapis naratif membantu klien untuk membentuk kembali kisah-kisah berisi masalah-masalah yang mereka hadapi dengan memisah-misahkan asumsi-asumsi yang diyakini begitu saja yang terbentuk dari sebuah kejadian yang mana kemudian membuka kemungkinan alternatif untuk menjalani hidup (Bertolino & O’Hanlon; WInslade & Monk, 1999).
Eksternalisasi adalah proses untuk membentuk kembali kekuatan naratif dan memisahkan orang dari pengidentifikasian masalah dan kadang pemberian nama kepada masalah tersebut. White (1992) menyatakan orang datang mencari terapi karena mereka menganggap mereka memiliki masalah dan bukanlah untuk suatu alasan menyeluruh seperti masalah kejiwaan. Ketika klien memandang diri mereka adalah masalah, mereka membatasi diri mereka kepada cara-cara untuk mengatasi masalah tersebut. Pengaruh dari perubahan bahasa yang halus ini adalah klien dapat merasakan masalah yang ada diluar diri mereka. Bukannya memiliki masalah, seseorang justru memiliki hubungan dengan masalah. Contohnya, ada perbedaan antara menyebut seseorang sebagai pecandu alkohol dan mengetahui ada indikasi bahwa alkohol telah mempengaruhi kehidupannya. Memisahkan masalah dari diri seseorang akan memberikan harapan dan memungkinkan klien untuk menghadapi masalah seperti menyalahkan dirinya sendiri. Dengan memahami kecenderungan untuk menyalahkan dirinya sendiri, klien dapat membentuk kembali garis ceritanya dan membentuk cerita yang lebih positif.
Sebagian besar klien barangkali tidak mengidentifikasi efek penuh cerita masalah, barangkali karena ketakutan mereka dibanjiri oleh kesulitan-kesulitan. Metode yang digunakan untuk memisahkan seseorang dengan masalah disebut sebagai eksternalisasi percakapan. Metode ini secara khusus bermanfaat ketika orang-orang mendiagnosis dan memberi label yang tidak memvalidasi atau memberdayakan proses perubahan (Bertolino dan O'Hanlon 2002). Eksternalisasi percakapan menetralkan tekanan, cerita yang jenuh dengan masalah, dan memberdayakan untuk merasa kompeten dalam menangani masalah yang dihadapi. Dua cara untuk membentuk eksternalisasi percakapan adalah (1) memetakan pengaruh dari masalah dalam kehidupan seseorang, atau (2) memetakan pengaruh kehidupan seseorang terhadap pengembangan masalah (McKenzie dan Monk, 1997).
Pemetaan pengaruh masalah terhadap seseorang menghasilkan informasi yang sangat bermanfaat dan seringkali membuat orang-orang tidak terlalu salah dan malu. Orang-orang merasa didengar dan dipahami ketika masalah yang mempengaruhi mereka diselidiki secara sistematis. Ketika pemetaan ini dilakukan secara hati-hati, ini memberikan landasan untuk mengarang garis cerita baru bagi klien. Sebuah pertanyaan yang umum adalah “Kapan masalah ini muncul pertama kali dalam kehidupan anda?” Pekerjaan dari terapis adalah membantu klien dalam menelusuri masalah dari mana asalnya sampai sekarang. Terapis menempatkan masalah mendatang dengan bertanya, “Jika masalah berlanjut selama satu bulan (atau periode tertentu), apakah artinya bagi anda?” Pertanyaan ini dapat memotivasi klien untuk bergabung dengan terapis dalam memerangi dampak dari efek masalah tersebut.
Pemetaan efek dari kehidupan seseorang terhadap pengembangan masalah seringkali membuat klien menjadi sadar bahwa masalah tersebut tidak sepenuhnya didominasi diri atau kehidupannya. Terdapat beberapa contoh di mana klien menangani secara baik masalah tersebut. bentuk pemetaan ini membantu klien tidak tenggelam dalam masalah dan melihat harapan dari bentuk kehidupan berbeda. Terapis melihat ‘momen kemilau’ ini ketika mereka melakukan eksternalisasi percakapan dengan klien (White dan Epston, 1990).
Kasus Brandon mengilustrasikan eksternalisasi percakapan. Brandon mengatakan bahwa dia terlalu marah, khususnya ketika dia merasa bahwa istrinya mekritiknya secara tidak adil: “Saya hanya cerewet, daya rendah, saya kacau, kembali bertengkar. Kemudian saya ingin saya tidak seperti itu, tetapi sudah terlalu lambat. Saya terjerumus lagi” Walaupun pertanyaan tentang bagaimana kemarahan terjadi, lengkap dengan contoh dan kejadian-kejadian khusus, akan membangun menunjukkan pengaruh dari masalah, pertanyaan sesungguhnya adalah eksternalisasi masalah: “Apakah misi dari marah, dan bagaimanakah anda melakukan misi tersebut?”, “Bagaimanakah kemarahan anda terjadi, dan bagaimana ini membuat anda menjadi sangat kuat?” “Apakah kemarahan yang dilakukan anda, dan apa yang terjadi ketika anda memenuhi kebutuhan tersebut ?

SFBC (Solution Focus Brief Counseling)


  1. NAMA PENDEKATAN
Nama pendekatan konseling ini adalah Solution Focus Brief Counseling. Konseling ini selanjutnya disingkat SFBC,  adalah suatu konseling singkat yang dibangun atas potensi konseli yang sebenarnya mampu mengkonstruksi solusi dari masalahnya.

  1. SEJARAH PERKEMBANGAN
SFBC merupakan salah satu teknik konseling pendekatan postmodern. Tumbuh dari orientasi terapi strategis di lembaga penelitian jiwa, SFBC menggeser fokus dari penyelesaian masalah untuk fokus pada solusi lengkap.
Steve de Shazer dan Insoo Kim Berg memulai pergeseran ini di pusat terapi singkat di Milwaukee pada akhir tahun 1970an. Setelah tumbuh tidak puas dengan kendala dari model strategis, pada tahun 1980an de Shazer berkolaborasi dengan sejumlah terapis, termasuk Eve Lipchik, John Walter, Jane Peller, Michelle Weiner-Davis, dan Bill O’Hanlon, yang masing-masing menulis secara ekstensif tentang SFBC dan memulai SFBC di lembaga pelatihan  mereka. Baik O’Hanlon dan Weiner-Davis terpengaruh oleh karya asli de Shazer, namun mereka memperluas dasar ini dan menciptakan apa yang mereka sebut Solution – Oriented therapy. Dalam  bab ini ketika didiskusikan solution-focused brief therapy, solution-focused therapy, dan solution-oriented therapy, lebih difokuskan pada kesamaan pendekatan ini daripada melihat perbedaannya.
Dua pendiri utama SFBC yaitu INSOO KIM BERG : Sebagai Direktur exsekutif, pusat terapi keluarga yang singkat di Milwaukee. Sebagai pimpinan oretician dalam Pemusatan solusi terapi singkat (Solution Focused Brief Therapy (SFBT). Dia menyediakan tempat kerja yang dipersatukan, Japan, Korea Utara, Australia, Denmark, Inggris dan Jerman. Hasil tulisannya adalah jasa keluarga yang didasarkan: Pusat pendekatan solusi (1994), bekerja dengan masalah-masalah pemabuk (1992), Pusat Pendekat solusi (1992), dan Interviewing solution (2002).
STEVE DE SHAZER : salah satu pelopor (SFBT) Senior perkumpulan penelitian di Milwaukee, pengarang buku solusi terapi singkat SFBT (1985), petunjuk-petunjuk mempelajari (SFBT) (1988), meletakan perbedaan untuk bekerja (1991), awalnya kata sihir (1994). Dia mempresentasikan melalui tempat-tempat kerja, pelatihan, dan meluas sebagai konsultan di Amerika utara, Eropah, Australia, dan Asia untuk pengembangan teori dan solusi-solusi praktek.
SFBC berbeda dengan dari terapi tradisional dengan mengulas masa lalu dalam mendukung baik saat ini maupun masa depan. Konselor fokus pada apa yang mungkin, dan mereka kurang tertarik dalam  mengeksplorasi masalah. De Shazer mengatakan bahwa tidak perlu mengetahui penyebab masalah untuk menyelesaikannya dan tidak perlu menghubungkan antara penyebab masalah denga solusi. Pengumpulan informasi mengenai masalah tidak dibutuhkan dalam mengubah hal yang terjadi.
Jika mengetahui dan memahami masalah itu tidak penting, maka selanjtnya adalah mencari solusi yang benar. Setiap orang mungkin mempertimbangkan banyak solusi, dan apa yang benar bagi seseorang bisa jadi tidak benar menurut orang lain. dalam SFBC, konseli memilih tujuan  penyelesaian yang mereka harapkan, dan sedikit perhatian dalam memberikan diagnosis, pembicaraan masa lalu, atau eksplorasi masalah.
SFBC dibangun atas dasar asumsi optimis bahwa setiap manusia adalah sehat dan kompeten serta memiliki kemampuan dalam mengkonstruk solusi yang dapat meningkatkan kualitas hidupnya dengan optimal. Asumsi pokok dalam SFBC ini bahwa kita memiliki kemampuan untuk mengatasi tantangan hidup, walaupun kadang-kadang kita mungkin kehilangan arah atau kesadaran tentang kemampuan kita. Tanpa memperhatikan apa yang dibentuk konseli ketika mereka memulai konseling, Berg percaya konseli kompeten dan tugas konselor adalah untuk membantu konseli mengenali kompetensi yang mereka miliki. Esensi dari konseling ini adalah melibatkan konseli dalam membangun harapan dan optimis dengan membuat ekspektasi positif dalam kemungkinan perubahan. SFBC adalah pendekatan non patologis yang menekankan kompetensi dari pada kekurangan, dan kekuatan dari pada kelemahan. Model SFBC membutuhkan sikap filosofis dalam  menerima konseli dimana mereka dibantu dalam membuat solusi. O’ Hanlon mendeskripsikan  orientasi positif : “ menumbuhkan solusi – meningkatkan kehidupan manusia dari pada fokus  pada bagian-bagian patologi masalah dan perubahan menakjubkan dapat terjadi sangat cepat”. Karena konseli sering datang ke konseling dengan  pernyataan “ orientasi masalah”, bahkan sedikit solusi yang mereka pertimbangkan bersampul dalam kekuatan orientasi masalah. Konseli sering memiliki cerita yang berakar dalam sebuah pandangan yang menentukan apa yang terjadi di masa lalu pasti akan membentuk masa depan mereka. Konselor SFBC menentang pernyataan konseli dengan percakapan optimis yang menyoroti keyakinan mereka dalam pencapaian , menggunakan tujuan dari berbagai sudut. Konselor dapat menjadi penolong dalam  membantu konseli membuat pergeseran dari pernyataan masalah ke kondisi dengan kemungkinan-kemungkinan baru.  Konselor dapat mendorong dan menantang konseli untuk menulis cerita yang berbeda yang dapat menyebabkan akhir yang baru.

  1. HAKIKAT MANUSIA
Konseling berfokus solusi tidak mempunyai pandangan komprehensif tentang sifat manusia, tetapi berfokus pada kekuatan dan kesehatan konseli. Konseling berfokus solusi menganggap manusia bersifat konstruktivis. Sehingga, konseling berfokus solusi didasarkan pada asumsi bahwa manusia benar-benar ingin berubah dan perubahan tersebut tidak terelakkan.





  1. PERKEMBANGAN PERILAKU
1.      STRUKTUR KEPRIBADIAN
Struktur  kepribadian manusia berdasarkan teori SFBC adalah sebagai berikut:
a.       SFBC tidak menggunakan teori kepribadian dan psikopatologi yang ada saat ini
b.      Konselor tidak bisa memahami secara pasti tentang penyebab masalah individu
c.       Konselor perlu tahu apa yang membuat orang memasuki masa depan yang lebih baik dan sehat, yaitu tujuan yang lebih baik dan sehat
d.      Individu tidak bisa mengubah masa lalu, tetapi bisa mengubah tujuannya
e.       Tujuan yang lebih baik dapat mengatasi masalah dan mengantarkan masa depan yang lebih produktif
f.       Konselor perlu mengetahui karakteristik tujuan konseling yang baik dan produktif, proses positif, saat ini, praktis, spesifik, kendali konseli dan bahasa konseli
g.      Sebagai ganti teori kepribadian dan psikopatologi, masalah dan masa lalu, SFBC berfokus pada saat ini yang dipandu oleh tujuan positif  yang spesifik yang dibangun berdasarkan bahasa konseli dan dibawah kendalinya.

2.      PRIBADI SEHAT DAN BERMASALAH
Pribadi sehat berdasarkan teori SFBC adalah:
a.       Manusia pada dasarnya kompeten, memiliki kapasitas untuk membangun, merancang/ merekonstruksikan solusi-solusi sehingga mampu menyelesaikan masalahnya
b.      Tidak berkutat pada masalah, tetapi fokus pada solusi dan bertindak mewujudkan solusi yang diinginkan



Pribadi bermasalah menurut SFBC adalah:
a.       Mengkonstruk kelemahan diri. Dengan cara mengkonstruk cerita yang diberi label “masalah” dan meyakini bahwa ketidakbahagiaan berpangkal pada dirinya.
b.      Berkutat pada masalah dan merasa tidak mampu  menggunakan solusi yang dibuatnya.

  1. HAKIKAT KONSELING
Walter dan Peller berpikir mengenai konseling berfokus solusi sebagai model yang menerangkan bagaimana orang berubah dan bagaimana mereka dapat meraih tujuan mereka. Berikut ini beberapa asumsi dasar SFBC:
1.      Individu-individu yang datang konseling telah mempunyai kemampuan berperilaku efektif, meskipun keefektifan tersebut mungkin untuk sementara terhambat oleh pikiran negatif. Pikiran berfokus masalah mencegah orang dari mengenali cara efektif mereka dalam menangani masalah
2.      Ada  keuntungan untuk fokus positif pada solusi dan di masa depan. Jika konseli dapat mereorientasi diri mereka dengan mengarahkan kekuatan mereka menggunakan “ solution –talk” , merupakan suatu kesempatan bagus dalam konseling singkat
3.      Proses konseling diorientasikan pada peningkatan kesadaran eksepsi (harapan-harapan yang  menyenangkan) terhadap pola masalah yang dialami dan pemilihan proses perubahan
4.      Konseli sering mengatakan satu sisi dari diri mereka. SFBC mengajak konseli untuk memerika sisi lain dari cerita hidupnya yang disampaikan.
5.      Perubahan kecil membuka jalan bagi perubahan besar. Seringkali, perubahan kecil adalah semua yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah yang dibawa konseli ke konseling
6.      Konseli ingin berubah, memiliki kemampuan untuk berubah, dan melakukan yang terbaik untuk membuat perubahan terjadi. Konseli harus mengambil sikap kooperatif dengan konseli daripada merancang strategi sendiri untuk mengendalikan  hambatan. Ketika konselo mencari cara untuk kooperatif dengan konseli, maka perlawanan/ resistensi tidak akan terjadi.
7.      Konseli bisa percaya pada niat mereka untuk menyelesaikan masalah mereka. Tidak ada solusi yang “benar” untuk masalah spesifik yang dapat diaplikasikan pada semua orang. Setiap individu unik dan begitu juga pada setiap penyelesaian masalahnya.

  1. KONDISI PENGUBAHAN
Bertolino dan O’Hanlon  menekankan pentingnya membuat kolaborasi  hubungan terapeutik  dan  perlu dilakukan untuk keberhasilan konseling. Diakui bahwa konselor memiliki keahlian dalam  menciptakan konteks untuk perubahan, mereka menekankan bahwa konseli adalah ahli dalam kehidupan mereka dan sering memiliki perasaan yang bagus tentang apa yang harus dan tidak harus dilakukan di masa lalu dan begitu juga apa yang mungkin dilakukan di masa depan. SFBC mengasumsikan  pendekatan kolaboratif dengan konseli berbeda dengan sikap edukatif yang biasanya dikaitkan dengan model terapi tradisional. Jika konseli terlibat dalam proses terapeutik dari awal sampai akhir, perubahan  meningkat sehingga konseling akan sangat berhasil. Singkatnya, hubungan kolaborasi dan kooperatif  cenderung lebih efektif dari pada hubungan hierarki dalam konseling.

1.      TUJUAN
SFBC menawarkan beberapa bentuk tujuan:
-          Mengubah cara pandang situasi atau kerangka pikir
-          Mengubah situasi masalah dan menekankan pada kekuatan dan sumber daya konseli
-          Konseli didorong untuk terlibat dalam perubahan atau “ solution talk”, dari pada “ problem talk” dengan asumsi bahwa apa yang dibicarakan adalah sebagian besar apa yang akan dihasilkan
-          Berbicara tentang perubahan dapat menghasilkan perubahan. Secepat individu belajar untuk berbicara dalam  istilah kemampuan  dan  kompetensi mereka, apa sumber daya dan kekuatan yang mereka miliki, dan apa yang siap mereka lakukan  dan mengerjakannya, mereka dapat mencapai hal utama dalam konseling.

2.      SIKAP, PERAN DAN TUGAS KONSELOR
-          Mengidentifikasi dan memandu konseli mengeksplorasi kekuatan-kekuatan dan kompetensi yang dimiliki konseli
-          Membantu konseli mengenali dan membangun perkecualian-perkecualian pada masalah, yaitu saat-saat ketika konseli telah melakukan (memikirkan, merasakan) sesuatu yang mengurangi atau membatasi dampak masalah
-          Melibatkan konseli untuk berpikir tentang masa depan mereka dan apa yang mereka inginkan yang berbeda di masa depan
-          Konselor mengambil posisi “ tidak mengetahui” untuk meletakkan konseli pada posisi sebagai ahli mengenai kehidupan mereka sendiri. Konselor tidak mengasumsikan diri sebagai ahli yang mengetahui tindakan dan pengalaman konseli
-          Membantu konseli dalam mengarahkan perubahan tetapi tidak mendikte konseli apa yang ingin diubah
-          Konselor berusaha membentuk hubungan yang kolaboratif dan menciptakan suatu iklim yang respek, saling menghargai dan membangun suatu dialog yang bisa menggali konseli untuk mengembangkan kisah-kisah yang mereka pahami dan hayati dalam kehidupan mereka
-          Konsisten dalam membantu konseli berimajinasi bagaimana mereka menginginkan hal yang berbeda dan apa yang akan dilakukan untuk membawa perubahan tersebut terjadi dengan menanyakan “ apa yang Anda inginkan dari datang kesini?”, “apa yang akan membuat perbedaan untukmu?” dan “ apa kemungkinan-kemungkinan yang Anda tandai bahwa perubahan yang Anda inginkan terjadi?.

3.      SIKAP, PERAN DAN TUGAS KONSELI
-          Mau dan mampu berkolaborasi dengan konselor
-          Aktif terlibat dalam  proses konseling
-          Memiliki motivasi untuk menyelesaikan masalah

  1. MEKANISME PENGUBAHAN
1.      TAHAP-TAHAP KONSELING
a.      Establishing rapport. Yaitu pembentukan hubungan baik agar proses konseling berjalan lancar seperti yang diharapkan. Agar tercipta iklim yang kolaboratif antara konselor dengan konseli.
b.      Identifying a solvable complaint. Yaitu mengidentifikasi keluhan-keluhan yang akan dipecahkan.
c.       Establishing goals atau menetapkan tujuan yang akan dicapai dalam proses konseling.
d.      Deigning an intervention atau merancang intervensi
e.       Strategic task  that promote change. Yaitu tugas tertentu yang diberikan oleh konselor untuk mendorong perubahan. Misalnya dengan meminta konseli untuk mengamati  dengan mengatakan:” antara sekarang dan waktu mendatang kita bertemu, saya meminta anda untuk mengamati, sehingga Anda dapat menggambarkan pada saya pada pertemuan mendatang, apa yang terjadi di kehidupan Anda yang Anda inginkan terjadi secara berkelanjutan”.  Penugasan tersebut mendorong konseli bahwa perubahan yang diinginkan pasti terjadi dan tidak terelakkan. Hal tersebut sangat penting dipahami sebelum mereka memulai merancang perubahan.
f.        Identifying & emphazing new behavior & changes. Yaitu mengidentifikasi dan menguatkan perilaku baru dan perubahan.
g.      Stabilization atau stabilisasi
h.      Termination. Pada tahap terminasi, ciri-ciri pertanyaan yang diajukan konselor untuk mengidentifikasi keberhasilan knseling yaitu: “ apa hal berbeda yang diperlukan dalam hidup Anda yang dihasilkan dengan datang kemari sehingga Anda mengatakan bahwa pertemuan kita bermanfaat?”, dan “ ketika masalah Anda teratasi, hal berbeda apa yang akan Anda lakukan?”.

2.      TEKNIK-TEKNIK KONSELING
·         Exeption-Finding Questions : Pertanyaan tentang saat-saat dimana konseli bebas dari masalah. SFBT didasarkan pada gagasan dimana ada saat-saat dalam hidup konseli ketika masalah yang mereka identifikasi tidak bermasalah. Waktu tersebut disebut pengecualian dan disebut “ news of difference”. Konselor SFBC mengajukan ask exeption question untuk menempatkan konseli pada waktu-waktu ketika tidak ada masalah, atau ketika masalah yang ada tidak kuat. Pengecualian merupakan pengalaman hidup konseli di masa lalu ketika dimungkinkan  masalah tersebut masuk akal terjadi, tetapi entah bagaimana hal itu tidak terjadi. Dengan membantu konseli mengidentifikasi dan memeriksa pengecualian tersebut kemungkinan meningkatkan mereka dalam bekerja menuju solusi. Eksplorasi ini mengingatkan konseli bahwa masalah tidak selalu kuat dan  ada selamanya; juga menyediakan kesempatan untuk meningkatkan sumberdaya, melibatkan kekuatan, dan  menempatkan solusi yang mungkin. Konselor menanyakan pada konseli apa yang harus dilakukan agar pengecualian ini lebih sering terjadi. Dalam istilah SFBC, hal ini disebut “change-talk”.
—  Miracle Questions : Pertanyaan yang mengarahkan konseli berimajinasi apa yang akan terjadi jika suatu masalah dialami secara ajaib terselesaikan. Konselor menanyakan “ jika suatu keajaiban terjadi dan masalah Anda terpecahkan dalam waktu semalam, bagaimana Anda tahu bahwa masalah tersebut terselesaikan, dan apa yang akan berbeda?”. Konseli kemudian terdorong untuk menegaskan apa yang mereka inginkan agar merasa lebih percaya diri dan aman, konselor bisa mengatakan: “ biarkan dirimu berimajinasi bahwa kamu meninggalkan kantor hari ini dan kamu dalam  rel untuk bertindak lebih percaya diri dan aman. Hal berbeda apa yang akan kamu lakukan?”. Mengubah hal yang dilakukann dan cara pandang terhadap masalah  mengubah masalah tersebut. Meminta konseli untuk mempertimbangkan keajaiban tersebut dapat membuka celah kemungkinan di masa depan. Konseli didorong untuk mengikuti mimpinya sebagai cara dalam mengidentifikasi perubahan apa saja yang paling ingin mereka lihat. Pertanyaan ini memiliki fokus masa depan bahwa konseli dapat mulai  mempertimbangkan hal yang berbeda dalam hidupnya yang tidak didominasi oleh masalah tertentu. Intervensi ini menggeser penekanan  dari masa lalu dan masalah saat ini menuju kehidupan yang lebih memuaskan di masa depan.
—  Scaling Questions : Pertanyaan yang meminta konseli menilai kondisi dirinya (masalah, pencapaian tujuan) berdasarkan skala 1-10. Konselor SFBC juga menggunakan teknik ini ketika mengubah pengalaman konseli yang tidak mudah diobservasi, seperti perasaan, keinginan atau komunikasi. Sebagai contoh, seorang perempuan mengatakan bahwa dia merasa panik atau cemas, bisa ditanyakan:” pada skala 0-10, dengan 0 adalah apa yang Anda rasakan ketika Anda pertama kali datang konseling dan 10 sebagai perasaan Anda hari ini setelah keajaiban terjadi dan  masalah Anda teratasi, bagaimana Anda menyatakan  skala kecemasan Anda sekarang?”. Bahkan jika konseli hanya berkembang dari 0 ke 1, dia telah berkembang. Bagaimana dia melakukan itu? Apa yang dia perlukan untuk meningkatkan skala? Pertanyaan skala memungkinkan konseli untuk lebih memperhatikan apa yang mereka lakukan dan bagaimana mereka dapat mengambil langkah yang akan memandu perubahan yang mereka inginkan.
—  Coping Questions : Pertanyaan yang meminta konseli mengemukakan pengalaman sukses dalam menangani masalah yang dihadapi.
—  Compliments : Pesan tertulis yang dirancang untuk memuji konseli atas kelebihan, kemajuan, dan karakteristik positif bagi pencapaian tujuannya. 

  1. HASIL-HASIL PENELITIAN
Penelitian SFBC telah dilakukan oleh Mulawarman dengan judul Penerapan SFBT untuk meningkatkan harga diri siswa (self esteem) suatu embedded experimental design. Hasil penelitian dilihat dari hasil secara kuantitatif ditemukan perbedaan tingkat self esteem siswa sebelum mendapatkan intervensi SFBT dengan menggunakan Wilcoxon signed rank test, dimana nilai tersebut adalah 2, 207. Pada sisi kualitatif dengan berdasarkan pada hasil analisis percakapan ditemukan bahwa harga diri rendah berubah menjadi harga diri tinggi.

  1. KELEBIHAN DAN KELEMAHAN
1.      KELEBIHAN
a.       Pendekatan  ini menekankan pada singkatnya waktu konseling
b.      Pendekatan ini fleksibel dan mempunyai banyak riset yang membuktikan keefektifannya
c.       Pendekatan ini bersifat positif untuk digunakan dengan konseli yang berbeda-beda. Maksudnya, teori konseing ini didasarkan pada asumsi optimis bahwa setiap manusia adalah sehat dan kompeten serta memiliki kemampuan dalam mengkonstruk solusi dalam meningkatkan kualitas hidup mereka dengan optimal.
d.      Pendekatan ini difokuskan pada perubahan dan dasar pemikiran yang menekankan perubahan kecil pada tingkah laku
e.       Pendekatan ini dapat dikombinasikan dengan pendekatan konseling lainnya
2.      KELEMAHAN
a.       Pendekatan ini hampir tidak memperhatikan riwayat konseli
b.      Pendekatan ini kurang memfokuskan pencerahan
c.       Pendekatan  ini menggunakan tim, setidaknya beberapa praktisi, sehingga membuat perawatan ini mahal

  1. SUMBER RUJUKAN
Corey, Gerald. 2009.Theory and Practice of Counseling and Psychotherapy Eigh Edition. USA: Thomson Higher education
Palmer, Stephen. 2011.  Introduction to Counselling and Psychotherapy (terjemahan). Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Gladding, Samuel T. 2012. Counseling a Comprehensive Profession, sixth edition (terjemahan). Jakarta Barat: PT Indeks
 

Sample text

Sample Text