Pages

Jumat, 02 November 2012

Behavior Therapy


PENDEKATAN BEHAVIORISTIK DALAM KONSELING

A.     NAMA PENDEKATAN
Behavior Therapy
B.       SEJARAH PERKEMBANGAN
Tokoh-tokoh Behavior Therapy
1)      B.F. Skinner
BF Skinner (1904-1990), dibesarkan di lingkungan keluarga yang hangat dan stabil. Skinner sangat tertarik dalam membangun segala macam hal. Ia menerima gelar PhD di bidang psikologi dari Harvard University pada tahun 1931 dan akhirnya kembali ke Harvard setelah mengajar di beberapa universitas. Skinner adalah seorang juru bicara terkemuka untuk behaviorisme dan dapat dianggap sebagai bapak dari pendekatan behavior. Ia juga seorang ahli eksperimen di laboratorium.
            Skinner tidak mempercayai menusia memiliki pilihan bebas. Menurutnya tindakan tidak dipengaruhi oleh pikiran dan perasaan. Ia menekankan pandangannya pada sebab akibat antara tujuan, kondisi lingkungan dan perilaku yang dapat diamati. Pandangannya muncul sebagai bentuk protes terhadap psikoanalitik yang berfokus pada pikiran dan motif-motif yang tidak terlihat, sehingga ia merasa prihatin akan fokus yang terlalu kecil terhadap lingkungan yang dapat diamati. Skinner tertarik pada konsep penguatan dan menerapkannya dalam dirinya sendiri. Skinner percaya iptek dapat menjanjikan masa depan yang lebih baik. 

2)      Albert Bandura
Albert Bandura (lahir 1925), dia adalah anak bungsu dari enam anak di sebuah keluarga keturunan Eropa Timur. Selama SD dan SMA ia bersekolah di sekolah yang kekurangan guru dan sumber daya. Hal ini yang menjadi asset awal Bandura dalam mempelajari keterampilan memimpin diri, ia Memperoleh gelar PhD dalam psikologi klinis dari University of Iowa pada tahun 1952, dan setahun kemudian ia bergabung dengan fakultas di Universitas Stanford.
Bandura dan rekan-rekannya yang merintis dalam bidang social modeling dan memperkenalkannya sebagai suatu proses yang kuat yang menjelaskan beragam bentuk pembelajaran. Teori yang dihasilkan ialah Social Cognitive Theory, yang menyatakan manusia dapat mengatur diri sendiri, dapat mempengaruhi tingkah laku dengan mengatur lingkungan, dapat menciptakan dukungan positif, dan dapat melihat konsekuensi bagi tingkah laku sendiri. Gagasan ini menyatakan bahwa manusia tidak hanya dibentuk oleh kekuatan lingkungan, tetapi juga oleh kekuatan batin yang memotifasi.
Bandura berkonsentrasi pada empat bidang penelitian: (1) kekuatan pemodelan psikologis dalam membentuk pikiran, emosi, dan tindakan, (2) mekanisme agensi manusia, atau cara orang mempengaruhi motivasi mereka sendiri dan perilaku melalui pilihan; ( 3) persepsi masyarakat atas kemanjuran mereka untuk menjalankan pengaruh atas peristiwa yang mempengaruhi hidup mereka, dan (4) bagaimana reaksi stres dan depres disebabkan. Bandura telah menciptakan salah satu dari beberapa teori besar yang masih berkembang pada awal abad ke-21.

Sejarah Perkembangan
Terapi behavior tradisional diawali pada tahun 1950-an dan awal 1960-an di Amerika Serikat, Afrika Selatan, dan Inggris sebagai awal radikal menentang perspektif psikoanalisis yang dominan. Fokusnya adalah pada menunjukkan bahwa teknik pengkondisian perilaku yang efektif dan merupakan alternatif untuk terapi psikoanalitik.
                 Secara garis besar, sejarah perkembangan pendekatan behavior terdiri dari tiga trend utama, yaitu :
Gelombang 1  : Pada tahun 1960 Albert Bandura mengembangkan teori belajar sosial, yang dikombinasikan pengkondisian klasik dan operan kondisioning sdengan pembelajaran observasional. Bandura membuat kognisi fokus yang sah untuk terapi bahavior. Selama tahun 1960-an sejumlah pendekatan perilaku kognitif bermunculan, dan mereka masih memiliki dampak signifikan pada praktek terapi. Terapi behavior kontemporer muncul sebagai kekuatan utama dalam psikologi selama 1970-an, dan itu memiliki dampak signifikan pada pendidikan, psikologi, psikoterapi, psikiatri, dan pekerjaan sosial. Teknik behavior yang diperluas untuk memberikan solusi terhadap masalah bisnis, industri, dan membesarkan juga anak. Dikenal sebagai "gelombang pertama" di lapangan behavior, teknik terapi behavior dipandang sebagai pilihan perawatan untuk banyak  masalah psikologis.
Gelombang 2  : Tahun 1980-an yang ditandai dengan pencarian konsep dan metode baru yang melampaui teori belajar tradisional. Terapis behavior melakukan evaluasi terhadap metode yang mereka gunakan dan mempertimbangkan dampak dari praktek terapi pada klien mereka dan masyarakat yang lebih luas. Meningkatnya perhatian diberikan kepada peran emosi dalam perubahan terapi, serta peran faktor biologis dalam gangguan psikologis. Dua perkembangan yang paling signifikan adalah (1) munculnya terus terapi kognitif behavior sebagai kekuatan utama dan (2) penerapan teknik perilaku untuk pencegahan dan pengobatan  gangguan kesehatan terkait.
     Pada akhir 1990-an Asotiation Behavior and Cognitive Therapi (ABCT) menyatakan keanggotaan dari sekitar 4.300. Gambaran saat ABCT adalah "sebuah organisasi keanggotaan lebih dari 4.500 profesional kesehatan mental dan mahasiswa yang tertarik dalam terapi bahavior berbasis empiris atau terapi behavior kognitif." Perubahan nama dan deskripsi mengungkapkan pemikiran saat ini mengintegrasikan terapi perilaku dan kognitif. Terapi kognitif dianggap sebagai “gelombang kedua” dari tradisi behavior.
Gelombang 3  : Pada awal 2000-an, "gelombang ketiga" dari tradisi perilaku muncul, memperbesar ruang lingkup penelitian dan praktek. Perkembangan terbaru termasuk terapi perilaku dialektis, kesadaran berbasis pengurangan stres, kesadaran berbasis terapi kognitif, dan penerimaan dan terapi komitmen.

C.      HAKIKAT MANUSIA
Menurut Behavior Therapy, manusia adalah produk dan produsen (penghasil) dari lingkungannya. Pandangan ini tidak tergantung pada asumsi deterministik bahwa manusia adalah produk belaka dari pengkondisian sosiokultural mereka. Manusia dipandang memiliki potensi untuk berperilaku baik atau buruk, tepat atau salah. Pendekatan behavior berpandangan bahwa setiap perilaku dapat dipelajari. Manusia mampu melakukan refleksi atas tingkahlakunya sendiri, dan dapat mengatur serta mengontrol perilakunya dan dapat belajar tingkah laku baru atau dapat mempengaruhi orang lain. Terapi behavior bertujuan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat sehingga mereka memiliki lebih banyak pilihan untuk merespon. Dengan mengatasi perilaku melemahkan yang membatasi pilihan, orang lebih bebas untuk memilih dari kemungkinan yang tidak tersedia sebelumnya.




D.      PERKEMBANGAN PERILAKU
1)   Struktur Kepribadian
Dalam pandangan behavioral, kepribadian manusia itu pada hakikatnya adalah perilaku, karena hanya perilakulah yagn dapat diuji dilaboratorium. Perilaku itu terbentuk melalui suatu proses belajar dari lingkungannya. Kepribadian seseorang merupakan cerminan dari pengalaman belajarnya, yaitu situasi atau stimulus yang diterimanya. Oleh karena itu untuk memahami kepribadian individu ialah dengan melihat perilakunya yang tampak. Perilaku yang tampak itu dapat berupa perilaku adaptif (perilaku yang sesuai) atau perilaku maladaptif  (perilaku yang tidak sesuai).
2)   Pribadi Sehat dan Bermasalah
Berdasarkan pandangan behavioral tentang kepribadian maka pribadi sehat menurut pandangan ini ialah perilaku atau kebiasaan-kebiasaan  negatif atau perilaku yang tidak tepat, yaitu perilaku yang tidak sesuai dengan yang diharapkan, perilaku bermasalah ini merupakan hasil belajar yang salah. Perilaku ini disebut dengan perilaku maladaptif.  Sedangakan pribadi sehat merupakan kebalikan dari pribadi bermasalah, yang disebut dengan perilaku adaptif.

E.       HAKIKAT KONSELING
Konseling  menurut pandangan behavioral ialah proses terapeutik dengan menggunakan prosedur-prosedur sistematik untuk mengubah perilaku maladaptif (perilaku yang tidak sesuai)  menjadi perilaku adaptif (perilaku yang sesuai) melalui proses belajar perilaku baru.
F.       KONDISI PENGUBAHAN
1)   Tujuan
*         Tujuan umum dari terapi behavior ialah untuk meningkatkan pilihan pribadi dan untuk menciptakan kondisi baru untuk belajar; mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi perilaku dan menemukan tindakan untuk mengatasi tingkah laku bermasalah.
*        Tujuan dalam proses konseling
Tujuan memiliki tempat sentral dalam terapi Behavior. Behavior kontemporer menekankan peran aktif klien dalam menentukan tentang pengobatan mereka. Klien, dengan bantuan terapis, mendefinisikan tujuan pengobatan khusus pada awal proses terapi. Tujuan terapi harus jelas, konkret, dipahami, dan disepakati oleh klien dan konselor. Konselor dan klien mendiskusikan perilaku yang terkait dengan tujuan, keadaan yang diperlukan untuk perubahan, sifat sub tujuan, dan rencana tindakan untuk bekerja ke arah tujuan ini. Proses penentuan tujuan terapi ini memerlukan negosiasi antara klien dan konselor yang menghasilkan kontrak yang memandu jalannya terapi. Tujuan yang ditetapkan akan digunkan sebagai tolak ukur untuk melihat keberhasilan proses terapi. Proses terapi akan dihentikan jika telah mencapai tujuan.
Perilaku terapis dan klien mengubah tujuan selama proses terapi yang diperlukan. Meskipun penilaian dan pengobatan terjadi bersama-sama, penilaian formal terjadi sebelum perawatan untuk menentukan perilaku yang menjadi sasaran perubahan. Penilaian terus-menerus sepanjang terapi menentukan sejauh mana mengidentifikasi tujuan yang terpenuhi. Hal ini penting untuk menemukan cara untuk mengukur kemajuan menuju tujuan berdasarkan validasi empiris.
2)        Sikap, peran, dan tugas Konselor
Sikap yang dimiliki oleh konselor behavior ialah menerima, dan mencoba memahami apa yang dikemukakan konseli tanpa menilai atau mengkritiknya. Dalam proses terapi, konselor berperan sebagai guru atau mentor.
Praktisi behavior harus memiliki keterampilan, sensitivitas, dan kecerdasan klinis. Mereka menggunakan beberapa teknik umum dengan pendekatan lain, seperti meringkas klarifikasi, refleksi, dan pertanyaan terbuka. Namun, terapis behavior melakukan fungsi lain juga (Miltenberger, 2008; Spiegler & Guevremont, 2003):
• Berdasarkan penilaian fungsional yang komprehensif, terapis merumuskan tujuan pengobatan awal dan desain dan mengimplementasikan rencana perawatan untuk mencapai tujuan tersebut.
• Para terapis menggunakan strategi behavior yang memiliki dukungan penelitian untuk digunakan dengan jenis tertentu dari masalah. Strategi-strategi ini digunakan untuk kemajuan generalisasi dan pemeliharaan perubahan perilaku.
• Terapis mengevaluasi keberhasilan rencana perubahan dengan mengukur kemajuan menuju tujuan sepanjang durasi pengobatan. Ukuran hasil yang diberikan kepada klien pada awal pengobatan dan dikumpulkan lagi secara periodik selama dan setelah perawatan untuk menentukan apakah rencana strategi dan pengobatan bekerja. Jika tidak, penyesuaian dilakukan dalam strategi yang digunakan.
• Tugas utama terapis adalah untuk melakukan tindak lanjut penilaian untuk melihat apakah perubahan yang tahan lama dari waktu ke waktu. Klien belajar bagaimana mengidentifikasi dan mengatasi kemunduran potensial. Penekanannya adalah pada membantu klien mempertahankan perubahan dari waktu ke waktu dan memperoleh keterampilan mengatasi perilaku dan kognitif untuk mencegahnya kambuh.

3)   Sikap, peran, dan tugas Konseli
Terapi behavior memiliki prosedur kerja yang jelas, sehingga konselor dan konseli memiliki peran yang jelas. Ini berarti untuk mencapai tujuan terapi sangat dibutuhkan kerjasama yang baik antara konselor dan konseli. Adapun sikap, peran dan tugas konseli dalam proses terapi ialah meliputi :
·      Memiliki motivasi untuk berubah
·      Kesadaran dan partisipasi konseli dalam proses terapi, baik selama sesi terapi maupun dalam kehidupan sehari-hari
·      Klien terlibat dalam latihan perilaku baru dan umumnya menerima pekerjaan rumah yang aktif (seperti self-monitoring perilaku bermasalah) untuk menyelesaikan antara sesi terapi.
·      Terus menerapkan perilaku baru setelah pengobatan resmi telah berakhir.

4)        Situasi Hubungan
Bukti klinis dan penelitian menunjukkan bahwa hubungan terapeutik, bahkan dalam konteks orientasi perilaku, dapat memberikan kontribusi yang signifikan terhadap proses perubahan perilaku. Kebanyakan praktisi behavior menekankan nilai membangun hubungan kerja kolaboratif. Para terapis behavior terampil mengkonseptualisasikan masalah perilaku dan memanfaatkan hubungan klien-terapis dalam memfasilitasi perubahan. Sebagian besar praktisi behavior berpendapat bahwa faktor-faktor seperti kehangatan, empati, keaslian, permisif, dan penerimaan diperlukan, tetapi tidak cukup, untuk perubahan perilaku terjadi. Terapis behavior berasumsi bahwa klien membuat kemajuan terutama karena teknik perilaku khusus yang digunakan bukan karena hubungan dengan terapis.

G.      MEKANISME PENGUBAHAN
             1)     Tahap-tahap konseling
Tahap-tahap dalam konseling behavior terdiri atas empat tahap yaitu :
a. Asesmen
Hal-hal yang digali dalam asesmen meliputi analisis tingkah laku bermasalah yang dialami konseli saat ini; analisis situasi yang di dalamnya masalah konseli terjadi; analisis motivasional; analisis self-control; analisis hubungan sosial; dan analisis lingkungan fisik-sosial budaya.
b. Menentukan Tujuan
Tujuan memiliki tempat sentral dalam terapi Behavior, karena tujuan inilah yang akan menghasilkan kontrak yang memandu jalannya terapi.  Tujuan yang ditetapkan akan digunkan sebagai tolak ukur untuk melihat keberhasilan proses terapi. Proses terapi akan dihentikan jika telah mencapai tujuan.
Konselor dan konseli mnetapkan tujuan pada awal terapi. Tujuan terapi harus jelas, konkret, dipahami, dan disepakati oleh klien dan konselor. Konselor dan klien mendiskusikan perilaku yang terkait dengan tujuan, keadaan yang diperlukan untuk perubahan, sifat tujuan, dan rencana tindakan untuk bekerja ke arah tujuan ini.
c. Mengimplementasikan Teknik
Setelah merumuskan tujuan yang ingin dicapai, konselor dan konseli menentukan strategi belajar yang terbaik untuk membantu konseli mencapai perubahan tingkah laku yang diinginkan. Konselor dan konseli mengimplementasikan teknik-teknik konseling sesuai dengan masalah yang dialami oleh konseli.
d. Mengakhiri Konseling
                        Proses konseling akan berakhir jika tujuan yang ditetapkan di awal konseling telah tercapai. Meskipun demikian, konseli tetap memiliki tugas, yaitu terus melaksanakan perilaku baru yang diperolehnya selama proses konseling, di dalam kehidupannya sehari-hari.

             2)     Teknik-teknik konseling
Ø Applied Behavioral Analysis: Operant Conditioning
Tujuan dari operant conditioning ialah untuk mengurangi atau menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan. Beberapa prinsip kunci operant conditioning: penguatan positif, penguatan negatif, pemunahan, hukuman yang positif, dan hukuman negatif.
            Penguatan Positif dan Penguatan Negatif
Tujuan dari penguatan, baik positif maupun negatif, adalah untuk meningkatkan perilaku target. Penguatan positif melibatkan penambahan sesuatu yang bernilai bagi individu (seperti pujian, perhatian, uang makan, atau) sebagai konsekuensi dari perilaku tertentu. Tujuan dari program ini adalah untuk mengurangi atau menghilangkan perilaku yang tidak diinginkan, penguatan positif sering digunakan untuk meningkatkan frekuensi perilaku yang lebih diinginkan, yang menggantikan perilaku yang tidak diinginkan. Penguatan negatif melibatkan melarikan diri dari atau menghindari rangsangan permusuhan. Individu termotivasi untuk menunjukkan perilaku yang diinginkan untuk menghindari kondisi yang tidak menyenangkan.
Pemunahan
Mengacu pada penguatan pemotongan dari respon yang sebelumnya diperkuat. Dalam pengaturan diterapkan, pemuunahan dapat digunakan untuk perilaku yang telah dipertahankan oleh penguatan positif atau penguatan negatif.
Hukuman
Tujuan dari penguatan adalah untuk meningkatkan perilaku yang diinginkan, namun tujuan hukuman adalah untuk mengurangi perilaku tersebut. Dua jenis hukuman yang mungkin terjadi sebagai akibat dari perilaku yaitu hukuman positif dan hukuman negatif.
Hukuman positif digunakan untuk mengurangi frekuensi perilaku, contohnya seorang anak yang sering keluar kelas diberi hukuman dengan melarangnya untuk tidak keluar kelas. Sedangkan dalam hukuman negatif, rangsangan yang menyebabkan perilaku tersebut dihilangkan, seperti memotong gaji karyawan yang sering tidak masuk kerja.
Skinner (1948) percaya bahwa hukuman memiliki nilai yang terbatas dalam mengubah perilaku dan sering merupakan cara yang diinginkan untuk memodifikasi perilaku. Ia menentang menggunakan kontrol permusuhan atau hukuman, dan dianjurkan menggantinya dengan penguatan positif. Prinsip utama dalam pendekatan behavior yang diterapkan adalah dengan menggunakan analisis permusuhan paling berarti mungkin untuk mengubah perilaku, dan penguatan positif dikenal sebagai agen perubahan yang paling kuat. Skinner percaya pada nilai menganalisis faktor lingkungan untuk kedua penyebab dan solusi untuk masalah perilaku dan berpendapat bahwa manfaat terbesar bagi individu dan masyarakat terjadi dengan menggunakan penguatan positif sistematis sebagai rute untuk mengontrol perilaku.
Ø  Relaksasi dan Metode Pelatihan Terkait
Relaksasi telah menjadi semakin populer sebagai metode mengajar orang untuk mengatasi tekanan yang dihasilkan oleh kehidupan sehari-hari. Prosedur relaksasi sering digunakan dalam kombinasi dengan sejumlah teknik behavior lainnya. Pelatihan relaksasi melibatkan beberapa komponen yang biasanya membutuhkan dari 4 sampai 8 jam instruksi.
Prosedur relaksasi :
·           Klien diberi satu set instruksi yang mengajarkan mereka untuk bersantai. Mereka membayangkan berada pada lingkungan yang santai dan tenang, sementara bergantian berkontraksi dan relaksasi otot.
·           Bernapas dalam dan teratur
·           Pada saat yang sama klien belajar untuk mental "membiarkan pergi," mungkin dengan berfokus pada pikiran  atau gambar yang menyenangkan.
·           Klien diperintahkan untuk benar-benar merasakan dan mengalami ketegangan itu  terbangun.
·           Klien kemudian diajarkan bagaimana untuk bersantai dengan semua otot sambil membayangkan berbagai bagian tubuh, dengan penekanan pada otot-otot wajah. Otot-otot lengan yang dibuat santai terlebih dulu, kemudian diikuti oleh kepala, leher dan bahu, punggung, perut, dan dada, dan kemudian tungkai bawah.
Relaksasi menjadi respon baik dipelajari, yang dapat menjadi pola kebiasaan jika dilakukan setiap hari selama sekitar 25 menit setiap hari.
Prosedur relaksasi telah diterapkan untuk berbagai masalah klinis, baik sebagai teknik terpisah atau dalam hubungannya dengan metode terkait. Penggunaan yang paling umum ialah dengan masalah yang berkaitan dengan stres dan kecemasan, yang sering diwujudkan dalam gejala psikosomatik. Beberapa penyakit lain yang sangat membantu latihan relaksasi termasuk asma, sakit kepala, hipertensi, insomnia, sindrom iritasi usus, dan gangguan panik (Cormier et al., 2009).

Ø  Desensitisasi Sistematis
Desensitisasi sistematis, yang didasarkan pada prinsip pengkondisian klasik, adalah prosedur dasar behavior yang dikembangkan oleh Joseph Wolpe, salah satu pelopor terapi behavior. Desensitisasi sistematis adalah prosedur terapi behavior yang memakan waktu, namun jelas merupakan pengobatan yang efektif dan efisien dari kecemasan yang berhubungan dengan gangguan, khususnya di bidang fobia spesifik, selain itu terapi ini juga dapat telah digunakan untuk berbagai macam kondisi lainnya selain kecemasan seperti, kemarahan, serangan asma, insomnia, mabuk perjalanan, mimpi buruk, dan tidur sambil berjalan.
Prosedur pelaksanaan :
·      Tahap pertama
Ø Wawancara awal sebelum menerapkan prosedur desensitisasi, untuk mengidentifikasi informasi khusus tentang kecemasan dan untuk mengumpulkan informasi latar belakang yang relevan tentang klien.
Wawancara ini, bisa berlangsung beberapa sesi, terapis memberikan pemahaman yang baik tentang siapa klien. Terapis mempertanyakan klien tentang keadaan tertentu yang menimbulkan ketakutan. Misalnya, dalam keadaan bagaimana yang membuat klien merasa cemas? Jika klien cemas dalam situasi sosial, apakah kecemasan bervariasi dengan jumlah orang yang hadir?
Ø Klien diminta untuk memulai proses self-monitoring yang terdiri dari mengamati dan merekam situasi selama seminggu yang memperoleh respon kecemasan. Beberapa terapis juga menggunakan kuesioner untuk mengumpulkan data tambahan tentang situasi yang menyebabkan kecemasan.
·      Tahap kedua
Penggunaan teknik Desentisasi Sistematis, dengan langkah-langkah sebagai berikut :
Ø Latihan relaksasi
Terapis menggunakan suara, sangat tenang, lembut, dan menyenangkan untuk mengajarkan relaksasi otot progresif. Klien diminta untuk membuat gambaran yang sebelumnya situasi santai, seperti duduk di tepi danau atau berjalan di sebuah taman yang indah. Merupakan hal yang penting bahwa klien mencapai kondisi ketenangan dan kedamaian. Klien diinstruksikan untuk berlatih relaksasi baik sebagai bagian dari prosedur desensitisasi dan juga di luar sesi setiap hari.
Ø Pengembangan hirarki kecemasan
Terapis membuat sebuah daftar peringkat dari situasi yang menimbulkan peningkatan derajat kecemasan atau penghindaran. Hirarki ini diatur dalam urutan dari situasi terburuk klien bisa membayangkan ke situasi yang membangkitkan sedikit kecemasan.
Ø Desentisasi yang tepat
Proses desensitisasi dimulai dengan klien mencapai relaksasi lengkap dengan mata tertutup. Sebuah adegan netral disajikan, dan klien diminta untuk membayangkan hal itu. Jika klien tetap santai, ia diminta untuk membayangkan sedikit kecemasan-- membangkitkan adegan pada hirarki situasi yang telah dikembangkan. Terapis bergerak progresif atas hirarki sampai klien menunjukkan bahwa ia sedang mengalami kecemasan, pada saat adegan diakhiri. Relaksasi kemudian diinduksi lagi, dan adegan ini diperkenalkan kembali lagi sampai kecemasan yang muncul menjadi berkurang terhadap adegan atau pengalaman itu.
Pengobatan berakhir ketika klien mampu tetap dalam keadaan rileks sambil membayangkan adegan yang dulunya paling mengganggu dan menimbulkan kecemasan. Inti dari desensitisasi sistematis diulang eksposur dalam imajinasi untuk membangkitkan situasi kecemasan tanpa mengalami konsekuensi negatif.
Pekerjaan rumah dan tindak lanjut merupakan komponen penting dari kesuksesan desensitisasi. Klien dapat berlatih teknik relaksasi setiap hari. Secara bertahap, mereka mengekspos diri mereka untuk situasi kehidupansehari-hari sebagai cara lanjutan untuk mengelola kecemasan mereka. Konseli akan aman jika menerapkan teknik-teknik ini ketika situasi kecemasan itu bangkit lagi dalam kehidupan sehari-hari setelah seti terapi berakhir.




Ø Dalam Paparan Vivo dan Pembanjiran (Flooding)
Terapi pemaparan dirancang untuk mengobati ketakutan dan respon emosi negatif dengan memperkenalkannya klien, dalam kondisi dikendalikan secara hati-hati, dengan situasi yang berkontribusi terhadap masalah tersebut. Pemaparan adalah proses penting dalam mengobati berbagai masalah yang terkait dengan rasa takut dan kecemasan.

Dalam Pemaparan VIVO
Pada terapi ini klien tidak disuruh untuk membayangkan situasi yang ditakutinya atau yang membangkitkan kecemasannya, tetapi klien dihadapkan langsung pada situasi itu. Terapis dan klien membuat hirarki kecemasan untuk melihat tingkat kecemasan yang dialami klien. Setelah pembuatan hirarki ini klien dihadapkan pada pemaparan penyebab itu. Klien dapat menghentikan pemaparan jika ia mengalami tingkat kecemasan yang tinggi.
Seperti halnya dengan desensitisasi sistematis, klien belajar tanggapan bersaing melibatkan relaksasi otot. Dalam beberapa kasus terapis dapat menemani klien saat mereka menghadapi situasi ditakuti. Sebagai contoh, terapis bisa pergi dengan klien dalam lift jika mereka memiliki fobia menggunakan lift.
Flooding (pembanjiran)
Dalam vivo flooding terdiri dari paparan intens dan berkepanjangan terhadap rancangan kecemasan yang sebenarnya. Umumnya, klien yang sangat ketakutkan cenderung mengekang kecemasan mereka melalui penggunaan perilaku maladaptif. Dalam flooding, klien dilarang untuk berkecimpung dalam respon mereka yang biasa maladaptive ketika dalam situasi kecemasan. Vivo flooding cenderung mengurangi kecemasan dengan cepat. Teknik ini didasarkan pada prinsip-prinsip dan mengikuti prosedur yang sama namun paparan terjadi dalam imajinasi klien bukan di kehidupan sehari-hari. Paparan terhadap peristiwa traumatis yang sebenarnya seperti kecelakaan pesawat, pemerkosaan, kebakaran, banjir,  sering tidak mungkin dilakukan karena alasan etis dan praktis. Banjir imaginal dapat menciptakan kembali keadaan trauma dengan cara yang tidak membawa konsekuensi yang merugikan bagi klien.
Flooding sering digunakan dalam pengobatan perilaku kecemasan yang berhubungan dengan gangguan, fobia, gangguan obsesif-kompulsif, gangguan stres pasca trauma, dan agoraphobia. Kontak yang terlalu lama dan intens dapat menjadi cara yang efektif dan efisien untuk mengurangi kecemasan klien. Penelitian menunjukkan bahwa terapi paparan dapat mengurangi derajat rasa takut dan kecemasan (Tryon, 2005).

Ø  Eye Movement Desensitisasi dan Reprocessing (EMDR)
EMDR adalah suatu bentuk terapi pemaparan yang melibatkan banjir imaginal, restrukturisasi kognitif, dan penggunaan yang cepat, gerakan mata berirama dan stimulasi bilateral lainnya untuk mengobati klien yang mengalami stres traumatik. Dirancang untuk membantu klien dalam berurusan dengan gangguan stres pasca trauma, (EMDR telah diterapkan pada berbagai populasi termasuk anak-anak, pasangan, korban pelecehan seksual, veteran perang, korban kejahatan, korban perkosaan, korban kecelakaan, dan individu yang berhubungan dengan kecemasan, panik , depresi, kesedihan, kecanduan, dan fobia).
Penggunaan etis prosedur menuntut pelatihan dan supervisi klinis. Terapis tidak harus menggunakan prosedur ini kecuali mereka menerima pelatihan yang tepat dan pengawasan dari instruktur EMDR resmi. Ada beberapa kontroversi apakah gerakan mata sendiri dapat membuat perubahan, atau penerapan teknik kognitif dipasangkan dengan gerakan mata bertindak sebagai agen perubahan. Dukungan empiris untuk EMDR telah dicampur, yang membuatnya sulit untuk menarik kesimpulan tegas tentang keberhasilan atau kegagalan dari intervensi ini.
Ø  Keterampilan Sosial Pelatihan
Pelatihan keterampilan sosial adalah kategori yang luas yang berhubungan dengan kemampuan individu, untuk berinteraksi secara efektif dengan orang lain dalam berbagai  situasi sosial dan digunakan untuk memperbaiki kekurangan/ masalah ketidakmampuan dalam pribadinya. Keterampilan sosial melibatkan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain dengan cara yang baik, tepat dan efektif bagi individu yang mengalami masalah psikososial. Pelatihan keterampilan social meliputi psikoedukasi, pemodelan, penguatan, latihan perilaku, bermain peran, dan umpan balik serta latihan manajeman kemarahan.
Pelatihan Asertif
Salah satu bentuk khusus dari pelatihan keterampilan sosial yang populer adalah mengajar orang bagaimana untuk bersikap tegas dalam berbagai situasi sosial. Pelatihan Asertif ini berguna bagi mereka yang : (1) yang memiliki kesulitan mengekspresikan kemarahan atau iritasi, (2) yang mengalami kesulitan mengatakan tidak, (3) yang terlalu sopan dan memungkinkan orang lain untuk mengambil keuntungan dari mereka, (4) yang sulit untuk mengekspresikan kasih sayang dan tanggapan positif lainnya, (5) yang merasa mereka tidak memiliki hak untuk mengungkapkan pikiran mereka, kepercayaan, dan perasaan, atau (6) yang memiliki fobia sosial.
Asumsi dasar yang mendasari pernyataan adalah bahwa setiap orang memiliki hak (bukan kewajiban) untuk mengekspresikan diri. Salah satu tujuan dari pelatihan asertif adalah untuk meningkatkan perilaku yang disengaja sehingga mereka dapat membuat pilihan apakah akan bersikap tegas dalam situasi tertentu. Adalah penting bahwa klien menggantikan keterampilan sosial maladaptif dengan keterampilan baru. Tujuan lain adalah mengajar orang untuk mengekspresikan diri mereka dengan cara yang mencerminkan kepekaan terhadap perasaan dan hak orang lain. Sikap tegas pelatihan didasarkan pada prinsip-prinsip teori belajar sosial dan menggabungkan banyak metode pelatihan ketrampilan sosial. Umumnya, terapis mengajarkan dan mencontohkan perilku yang ingin didapatkan klien. Perilaku ini dipraktekkan di ruang terapi dan kemudian dibawa ke dalam kehidupan sehari-hari. Kebanyakan program pelatihan asertif berfokus pada pernyataan diri klien yang negatif, keyakinan mengalahkan diri sendiri, dan pemikiran yang salah.
Pelatihan asertif sering dilakukan dalam kelompok. Ketika menggunakan metode kelompok, pemodelan dan instruksi disajikan kepada seluruh kelompok, dan anggota berlatih keterampilan perilaku dalam situasi bermain peran. Setelah latihan, anggota diberi umpan balik yang terdiri dari memperkuat aspek yang benar dari perilaku dan petunjuk tentang cara untuk meningkatkan perilaku. Setiap anggota terlibat dalam latihan lebih lanjut dari perilaku asertif sampai keterampilan yang dilaksanakan memadai dalam berbagai situasi simulasi (Miltenberger, 2008).
Ø  Self-Modifikasi Program dan Self-Directed Behavior
Keuntungan teknik modifikasi diri (atau manajemen diri) adalah pengobatan dapat diperlus publik dengan cara yang tidak dapat dilakukan dengan pendekatan tradisional untuk terapi. Keuntungan lain adalah bahwa biaya yang minimal. Karena klien memiliki peran langsung dalam pengobatan mereka sendiri, teknik ditujukan pada perubahan diri untuk meningkatkan keterlibatan dan komitmen terhadap pengobatan mereka.
Strategi self-modification meliputi pemantauan diri, self-reward, self-kontrak, kontrol stimulus, dan self-sebagai-model. Asumsi dasar dari penilaian modifikasi diri dan intervensi adalah bahwa perubahan dapat dibawa dengan mengajar orang untuk menggunakan keterampilan koping dalam situasi bermasalah. Generalisasi dan pemeliharaan hasil yang ditingkatkan dengan mendorong klien untuk menerima tanggung jawab untuk melaksanakan strategi ini dalam kehidupan sehari-hari. Dalam program self-modification klien membuat keputusan mengenai perilaku tertentu yang ingin dikontrol atau diubah mereka. Klien sering menemukan bahwa alasan utama mereka tidak mencapai tujuan mereka adalah kurangnya keterampilan tertentu atau harapan yang tidak realistis dari perubahan.
Langkah dasar:
1. Memilih tujuan. Tujuan harus ditetapkan satu per satu waktu, dan mereka harus terukur, dapat dicapai, positif, dan signifikan bagi orang. Tujuan yang ingin dicapai haruslah realistis.
2. Menerjemahkan tujuan ke perilaku target. Mengidentifikasi perilaku yang ditargetkan untuk perubahan. Setelah target untuk perubahan dipilih, hambatan diantisipasi dan memikirkan cara-cara untuk mereka bernegosiasi.
3. Self-monitoring. Secara sengaja dan sistematis mengamati perilaku klien sendiri, dan membuat catatan perilaku, merekam perilaku bersama dengan komentar tentang situasi yg relevan dan konsekuensinya.
4. Bekerja diluar rencana untuk perubahan. Merencanakan program tindakan untuk membawa perubahan yang sebenarnya. Berbagai rencana untuk tujuan yang sama dapat dirancang, yang masing-masing dapat menjadi efektif. Beberapa jenis  sistem penguatan diri diperlukan dalam rencana ini karena penguatan merupakan hal terpenting dalam terapi perilaku modern. Penguatan diri adalah strategi sementara yang digunakan sampai perilaku baru telah diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari. Ambil langkah-langkah untuk memastikan bahwa keuntungan yang dibuat akan dipertahankan.
5. Mengevaluasi rencana tindakan. Evaluasi rencana terhadap perubahan untuk menentukan apakah tujuan sedang dicapai, dan menyesuaikan dan merevisi rencana sebagai cara lain untuk mencapai tujuan yang dipelajari. Evaluasi adalah proses yang berkelanjutan dan bukan kejadian satu kali, dan perubahan diri adalah praktek seumur hidup.
Masalah perilaku yang telah berhasil diatasi dengan penggunaan teknik ini meliputi serangan panik, membantu anak untuk mengatasi rasa takut terhadap gelap, meningkatkan produktivitas kreatif, mengelola kecemasan dalam situasi sosial, mendorong berbicara di depan kelas, pengendalian merokok, dan berurusan dengan depresi

Ø  Multimodal Terapi: Terapi Perilaku Klinis
Multimodal terapi bersifat komprehensif, sistematis, pendekatan holistik untuk terapi perilaku yang dikembangkan oleh Arnold Lazarus. Hal ini didasarkan pada pembelajaran sosial dan teori kognitif dan menerapkan teknik perilaku yang berbeda untuk berbagai masalah. Pendekatan ini berfungsi sebagai penghubung utama antara beberapa prinsip perilaku dan pendekatan perilaku kognitif yang telah menggantikan terapi behavior tradisional. Asumsi yang mendasari pendekatan ini adalah bahwa karena individu yang terganggu oleh berbagai masalah spesifik maka dibutuhkan banyak strategi untuk menghasilkan perubahan. Dalam prosesnya terapis multimodal terus-menerus menyesuaikan prosedur mereka untuk mencapai tujuan klien.
Terapis Multimodal cenderung sangat aktif selama sesi terapis, berfungsi sebagai pelatih, pendidik, konsultan, dan model peran. Mereka memberikan informasi, instruksi, dan umpan balik serta model perilaku asertif. Mereka menawarkan kritik konstruktif dan saran, memberikan penguatan positif, dan tepat mengungkapkan diri.
I.D DASAR
 Esensi dari pendekatan multimodal Lazarus adalah premis bahwa kompleksitas kepribadian manusia dapat dibagi menjadi tujuh wilayah utama dari fungsinya, yang meliputi : B = perilaku, A = tanggapan afektif, S = sensasi, I = gambar, C = kognisi;    I = hubungan interpersonal, dan D = obat, fungsi biologis, gizi, dan olahraga. Terapi multimodal dimulai dengan penilaian yang komprehensif dari tujuh modalitas fungsi manusia dan interaksi di antara mereka.
Sebuah premis utama dari terapi multimodal adalah luas yang sering lebih penting dibandingkan mendalam. Tanggapan lebih mengatasi klien belajar dalam terapi, yang kurang adalah kemungkinan untuk kambuh. Terapis mengidentifikasi satu masalah tertentu dari setiap aspek dari kerangka I.D DASAR sebagai target untuk mengubah dan mengajarkan klien berbagai teknik yang dapat mereka gunakan untuk memerangi pemikiran yang salah, belajar untuk rileks dalam situasi stres, dan untuk memperoleh keterampilan interpersonal yang efektif. Klien kemudian dapat menerapkan keterampilan ini untuk berbagai masalah dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Ø  Mindfulness dan Penerimaan Berbasis Cognitive Therapy (Mindfulness and Acceptance-Based Cognitive Behavior Therapy)
Terapi ini melibatkan kesadaran terhadap rangsangan eksternal dan internal pada pengalaman sekarang, dan melibatkan sikap yang untuk terbuka dalam menerima pengalaman tersebut dan bukan menilainya.
Empat pendekatan utama dalam perkembangan tradisi behavior terbaru meliputi (1) dialektis behavior therapy (2) pengurangan stres mindfulnessbased (3) kesadaran berbasis terapi kognitif (4) penerimaan dan terapi komitmen
Dialektis Behavior Therapy (DBT)
Dikembangkan untuk membantu klien mengatur, menerima serta mengubah emosi dan perilaku yang berhubungan dengan depresi.  Terapi ini melibatkan penerimaan atas situasi klien. Situasi emosional klien yang mengganggu tidak didistorsi, tidak dinilai, tidak dievaluasi dan tidak berusaha untuk dipertahankan atau untuk disingkirkan. DBT menggunakan teknik behavior, termasuk bentuk terapi paparan dimana klien belajar untuk mentoleransi emosi yang menyakitkan tanpa memberlakukan perilaku merugikan diri sendiri.
Mindfulness-Based Stress Reduction (MBSR)  
Keterampilan yang diajarkan dalam program MBSR termasuk meditasi duduk dan yoga sadar, yang bertujuan untuk menumbuhkan kesadaran. Program ini mencakup meditasi body scan yang membantu klien untuk mengamati semua sensasi dalam tubuh mereka. Sikap kesadaran dianjurkan dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari termasuk berdiri, berjalan, dan makan. Mereka yang terlibat dalam program ini didorong untuk mempraktekkan meditasi kesadaran formal selama 45 menit setiap hari. Program MBSR dirancang untuk mengajarkan peserta berhubungan dengan sumber eksternal dan internal stres dengan cara yang konstruktif. Program ini bertujuan untuk mengajarkan orang bagaimana untuk hidup lebih lengkap di masa sekarang daripada merenungkan tentang masa lalu atau menjadi terlalu khawatir tentang masa depan.

Terapi Penerimaan Dan Komitmen (Acceptance And Commitment Therapy (ACT))
Pendekatan ini melibatkan sepenuhnya penerimaan pengalaman sekarang dan penuh kesadaran untuk melepaskan hambatan. Penerimaan dalam pendekatan ini adalah tidak sekedar mentoleransi, melainkan tidak menghakimi serta aktif merangkul pengalaman saat ini. Berbeda dengan pendekatan Kognitif Behavior Therapy, di mana kognisi ditantang atau diperdebatkan, di ACT kognisi yang diterima. Klien belajar bagaimana menerima pikiran dan perasaan mereka yang mungkin dicoba untuk ditolak. Pandangan ini mengatakan bahwa pikiran maladptif diperkuat dengan cara ditentang daripada dikurangi. Tujuan dari ACT adalah untuk memungkinkan fleksibilitas psikologis meningkat.
Selain penerimaan, komitmen untuk bertindak sangat penting. Komitmen melibatkan membuat keputusan secara sadar tentang apa yang penting dalam hidup dan apa yang bersedia dilakukan agar hidupnya dihargai. ACT memanfaatkan pekerjaan rumah dan latihan perilaku sebagai cara untuk menciptakan pola-pola yang lebih besar dari tindakan efektif yang akan membantu klien hidup dengan nilai-nilai mereka. Sebagai contoh, salah satu bentuk pekerjaan rumah yang diberikan kepada klien yaitu meminta mereka untuk menuliskan tujuan hidup atau hal-hal yang mereka nilai dalam berbagai aspek kehidupan mereka. Fokus dari ACT adalah memungkinkan pengalaman untuk datang dan pergi sambil mengejar kehidupan yang bermakna.

H.  HASIL – HASIL PENELITIAN
1)      Conditioned Reflex/ Pengkondisian Klasik (Pavlov)
Penelitian ini menggunakan anjing yang dalam keadaan lapar ditempatkan pada ruang kedap suara. Dihadapan anjing, diletakkan meja untuk meletakkan tempat makanan yang mudah dijangkau anjing. Pada leher dipasang alat pada kelenjar ludahnya yang dihubungkan dengan selang sehingga saat air liur yang keluar dapat ditampung dan diukur dengan menggunakan gelas ukuran.
            Proses kondisioning pada penelitian ini adalah stimulasi yang digunakan bunyi bel, dan makanan. Pada percobaan pertama, tahapannya adalah Conditioning Stimulus (CS) berupa bunyi bel, Unconditioning Stimulus (US) adalah makanan, Unconditioning Response (UR) adalah air liur. Ketika percobaan pertama, bel dibunyikan dan tidak menghasilkan air liur, makanan menghasilkan air liur. Kemudian pada percobaan kedua proses  kondisioning, CS berupa bel diikuti pemberian US berupa makanan dengan diulang sebanyak 10 sampai 20 kali. Setelah terbentuk asosiasi antaraCS dan US. Ketika CS bel dibunyikan tanpa US yaitu makanan, diikuti CR yaitu keluar air liur.
            Pada penelitian ini jarak waktu pemberian CS dan US serta penghentian pemberian US mengakibatkan terjadi proses penghapusan yaitu ketika CS dan US telah membentuk CR, proses ini disebut tahap akusisi. Bila jarak waktu antara CS dan US selama 18 detik maka terjadi penurunan CR, seperti saat percobaan ke satu. Kehadiran CS tanpa diikuti US secara terus menerus akan melemahkan CR. Hal ini disebut dengan penghapusan. Akan tetapi setelah fase laten, bila proses ini diulang dengan jarak waktu 1 atau 2 detik antara CS1 dan US2, maka akan kembali CR. Dengan demikian CS+US=CR. Dalam hal ini US memperkuat munculnya CR, maka US berfungsi sebagai positive reinforcement. Pavlov menemukan bahwa fase penurunan bersifat temporer, karena pada saat setelah periode istirahat selama 30 menit. Pemberian CS langsung diikuti munculnya CR. Peristiwa ini disebut spontaneous recovery. Penerapan proses kondisioning telah berhasil dilakukan pada anjing, monyet dan manusia.
2)      Operant Conditioning (B. F. Skinner)
Penelitian ini menggunakan media burung merpati yang dimasukkan ke dalam kotak yang kedapsuara. Salah satu sisi dinding kotak terdapat bintik yang akan mengeluarkan cahaya merah setiap dipatuk, dan diikuti oleh keluarnya makanan. Merpati dilatih untuk mematuk dari lubang makanan. Pada percobaan ini, merpati berdiri di dekat bintik cahaya (dan lubang makanan) dan diberi makanan. Merpati berdiri dekat bintik cahaya dan menegakkan kepala, kemudian keluar makanan. Selanjutnya, merpati menatap bintik cahaya, dan keluar makanan. Kemudian, mematuk bintik cahaya dan keluar makanan. Merpati jadi sering mematuk bintik cahaya karena akan mendapat hadiah (reinforcement) berupa makanan. Percobaan ini mengajar merpati untuk memiliki tingkah laku baru, yaitu mematuk bintik cahaya merah untuk mendapat makanan. Pembentukan tingkah laku (shaping) dengan teknik ini disebut pendekatan berangsur (successive approximation).

I.     KELEMAHAN DAN KELEBIHAN
1)   Kelebihan
·      Pembuatan tujuan  terapi antara konselor dan konseli di awal  konseli dan itu dijadikan acuan keberhasilan proses terapi
·      Memiliki berbagai macam teknik konseling yang teruji dan selalu diperbaharui
·      Waktu konseling relatif singkat
·      Kolaborasi yang baik antara konselor dan konseli dalam penetapan tujuan dan pemilihan teknik
2)      Kelemahan
·      Dapat mengubah perilaku tetapi tidak mengubah perasaan
·      Mengabaikan faktor relasional penting dalam terapi
·      Tidak memberikan wawasan
·      Mengobati gejala dan bukan penyebab
·      Melibatkan kontrol dan manipulasi oleh konselor



J.    SUMBER RUJUKAN
Corey G. (2009). Theory and Practice of   Counseling and Psychotherapy (8th ed.). Belmont, CA: Brooks/Cole. 

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

 

Sample text

Sample Text